Tulisan ini ingin menyapa kita dan untuk menyamakan persepsi kita mengenai bencana yang melanda Neegeri ‘ Bhineka Tunggal Ika ‘ ini. Indonesia yang malang. Dulu, saya menganggap Indonesia adalah Negeri yang kaya dan memang anggapan saya waktu itu benar, tetapi tidak untuk sekarang. Tulisan ini hanya penyaluran opini atau analisis mengenai Indonesiaku.
Ulasan Bank Dunia (World Bank) ‘ Quality of Growth’ terbit tahun 2002 benar. Sebagai negara berkembang, kita menganut pola pembangunan dengan moto bangun dulu baru atur, sehingga untuk mengenyangkan perut 250 juta penduduk Indonesia, pemerintah melalui kebijakannya yang bersifat sesaat (diskrit).
Seperti apakah pola itu? Mari kita melihatnya bersama. Pola pembanguan sektor pertanian dengan sektor industri sebagai penopang menuju ke pola industrialisasi dengan sektor pertanian sebagai pendukungnya pada era Presiden Soeharto; di satu sisi peut kita memang telah dikenyangkan (tidak semua ya) namun di sisi lain, dampak yang ditimbulkan begitu dashyat yang kita nikmati sekarang ini.
Sektor Pertanian; Dalam rangka mencapai swasembada pangan tahun 1980-an, pola ekstensifikasi lahar pertanian dilakukan dengan pembukaan lahan baru (melalui transmigrasi) telah mengakibatkan jutaan hektar hutan dibabat. Yang penting makan dulu, Banjir masalah belakangan. jadi kita melihat bahwa program reboisasi dan penghijauan yang dilakukan waktu itu tidak berjalan dengan baik ( hanya formalitas karena tekanan dari negara donor).
Untuk yang sama dapat kita lakukan pada sektor sektor yang lain misalkan sektor kehutanan di mana penebangan hutan dilakukan hanya untuk kepentingan sesaat. Polusi akibat industrialisasi dan sektor sektor yang lain juga menganut pola pembanguan bangun dulu baru atur.
Yang menjadi pertanyaan kita saat ini, apakah moto semacam ini masih dianut atau sudah ditinggalkan oleh pemerintahan saat ini. Implementasi yang kita lihat mungkin belum berjalan karena investasi semacam ini adalah jangka panjang, namun kita dapat melihat apakah ada rencana semacam ini atau tidak dalam program pemerintah.
Sebagai penutup untuk opinion diatas, apakah ada jawaban rasional untuk pertanyaan
Mengapa Bencana selalu menimpa bumi Indonesia? haruskah kita menjawab TAKDIR seperti jawaban seorang ketika ditanya mengapa Pattimura ditangkap?